Contoh Masalah Keluarga dan Solusi Mengatasinya

Apa saja masalah yang sering terjadi pada keluarga di Indonesia? Dan Bagaimana solusi untuk mengatasinya? Perkawinan merupakan pertemuan dua pribadi yang berbeda dan unik untuk saling berbagi hidup. Perbedaan diantara dua pribadi itu tidak dapat dihindari.

Keluarga hidup terpisah lebih kurang 20 – 25 tahun, dan selama jangka waktu itu mereka telah mengembangkan selera, kesukaan, kebiasaan, kesenangan dan ketidaksenangan serta nilai-nilai hidup yang dipegangnya.Sangat tidak masuk akal apabila kamu menuntut dua orang – yang karena menikah – harus selalu melakukan hal yang sama dengan cara yang sama dan pada waktu yang sama.

 

Masalah Keluarga Solusi

Permasalahan rumah tangga banyak ragamnya. Mulai dari persoalan yang dianggap sepele sampai dengan masalah yang berat dan besar. Masalah dalam kehidupan berfamily dapat muncul ketika:

Kehadiran putera puteri pertama yang membuat laki laki-wanita harus menata ulang ritme kehidupannya. Jika tidak siap akan memicu konflik dan ketegangan hubungan antara keduanya.
Sang laki laki harus bekerja 12 jam sehari sedangkan sang wanita harus tinggal di rumah mengurus putera puteri dan rumah.
Sikap dan tindakan yang kurang berkenan terhadap family dari pihak wanita/laki laki.
Putera puteri beranjak dewasa dan mulai sering meninggalkan rumah.
Masa pensiun tiba dan keduanya tinggal di rumah.
Yang seorang selalu memencet pasta gigi dari bawah, sedangkan yang lain selalu dari atas.
Saat berbicara, yang seorang senang bercerita panjang lebar sedangkan yang lain memberikan garis besarnya saja.
Yang seorang perlu kamar yang benar-benar gelap untuk tidur sedangkan suami istrinya tidur dengan lampu menyala.
Yang seorang menganggap bahwa hubungan seksual hanya dapat dilakukan di tempat tidur dan di bawah selimut sedangkan suami istrinya menyukai variasi dan kreatif dalam melakukannya.
Yang seorang biasa menggantung baju dimana saja dia suka sedangkan yang lain menata baju dengan gantungan berdasarkan warna dan adanya jarak antar gantungan.
Ketika putera puteri dalam keadaan sakit, yang seorang terlihat begitu gelisah sedangkan yang lain tampaknya tenang-tenang saja.
Bagi laki laki – wanita yang sama-sama bekerja seringkali perbedaan pendapatan atau penghasilan menjadi masalah, terutama jika pendapatan wanita lebih besar dari pendapatan laki laki.
Adanya masalah yang harus kamu hadapi memperlihatkan bahwa kamu masih mempunyai kehidupan. Adanya masalah juga berarti hidup perkawinan kamu dinamis.

 

FAKTOR PEMICU MASALAH FAMILY

Bernard Wiese dan Urban Steinmetz mengatakan hal berikut mengenai masalah yang terjadi dalam rumah tangga: “Ketidaksesuaian pendapat tak terelakkan dalam suatu perkawinan dan kehidupan family. Kadangkala masing-masing pribadi dapat menjadi pesaing, seperti juga penolong dan pelengkap bagi suami istrinya. Setiap suami istri harus menghindari sikap menjauhkan diri yang sering muncul ketika konflik terjadi; dan membenahi hubungan mereka supaya tidak ada lagi sakit hati, keinginan untuk saling membalas atau saling menuduh. Untuk dapat mencapai hal itu, perbedaan-perbedaan harus didiskusikan secara terbuka. Sehingga komunikasi yang baik dapat dipulihkan. Reaksi kemarahan memang tak dapat dihindari dalam kehidupan seseorang, tetapi yang paling penting adalah apa yang diperbuat seseorang dengan amarahnya itu.

Hal lain yang perlu kamu perhatikan apabila kamu berbicara mengenai permasalahann kehidupan rumah tangga ialah apa yang dikatakan oleh H. Norman Wright, seorang konselor family dan perkawinan. Dalam bukunya, ia menyatakan bahwa sekarang ini ada tiga faktor yang berubah pada lembaga perkawinan yang dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan rumah tangga, yaitu:

1. Berkurangnya saling pengertian diantara suami istri yang menikah

Masalah utama dalam perkawinan dewasa ini, seperti yang diungkap banyak ahli konseling family, bukanlah:
Memang ketiga hal tersebut dapat menimbulkan masalah dalam family tetapi ada faktor lain yang lebih besar yaitu hilangnya atau lemahnya komunikasi antara laki laki dan wanita. Hilangnya atau lemahnya komunikasi antara laki laki dan wanita dapat menjadikan banyak hal dalam kehidupan berfamily – termasuk di dalamnya masalah seks, uang, dan putera puteri-putera puteri – sebagai masalah besar. Norman Wright setuju bahwa hilangnya komunikasi adalah inti masalah di balik meroketnya angka perceraian di masyarakat, termasuk juga di kalangan family kristen. Rapuhnya perkawinan sekarang ini lebih banyak disebabkan lemahnya komunikasi dan kedapatan dalam mengelola konflik. Komunikasi family yang tersumbat akan menghancurkan kehangatan rumah tangga. Kebuntuan komunikasi mendinginkan suasana hubungan antar pribadi yang ada di dalamnya.

Banyak family kehilangan keterampilan berkomunikasi yang sangat dibutuhkan untuk membuahkan saling pengertian guna membangun perkawinan yang kuat dan bertumbuh. Sedangkan konflik yang tidak dikelola dan diselesaikan dengan baik bagaikan api dalam sekan atau menjadi bom waktu yang suatu saat meledak dampaknya tidak terkendali. Dalam perkawinan, saling pengertian tidak hanya berarti tanpa perbedaan, melainkan dapat membicarakan perbedaan tersebut serta memahami suami istrinya. Dua orang yang saling mengasihi tetapi tidak dapat memahami isi hati dan pikiran suami istrinya akan terus mendapat kesulitan dalam hubungan mereka.

 

2. Hilangnya tekad untuk mempertahankan perkawinan

Sekarang ini banyak orang yang memasuki perkawinan dengan sikap: Jika tidak cocok mereka dapat mengakhiri hubungan tersebut dan mecoba lagi dengan orang lain, Banyak orang yang sangat tidak sabar dengan hidup perkawinan mereka. Mereka tidak ingin hidup dengan motto “bersenang-senang kemudian.” Mereka ingin hidup dengan motto “bersenang-senang saat ini juga” dan jika tak terpenuhi, mereka menyerah.

 

3. Berkembangnya harapan-harapan yang tidak realistis terhadap perkawinan

Banyak suami istri muda yang dibutakan oleh harapan-harapan yang tidak realistis ketika memasuki perkawinan. Mereka yakin bahwa hubungan tersebut harus ditkamui dengan cinta romantis yang tidak akan pernah surut; dalam waktu singkat mereka akan mendapatkan apa saja yang mereka mau dari suami istri hidupnya, suami istri hidupnya akan selalu sejalan dengan pikiran dan kemauannya, ekonomi family akan berjalan mulus bahkan berkelebihan dan sebagainya. Mereka mencari sesuatu yang “ajaib” di dalam perkawinan mereka. Sebenarnya, kerja keras mereka berdualah yang membuat perkawinan itu menampakkan hasil-hasil yang positif. Itu semua merupakan hasil dari langkah dua orang yang bekerja sama.

 

BAGAIMANA MENGATASI MASALAH DALAM FAMILY?

Salah satu kunci keberhasilan dalam menjalani kehidupan berfamily ialah kedapatan dalam mengatasi setiap permasalahan yang muncul dalam family sehingga setiap anggota family dapat memainkan perannya secara optimal. Jangan biarkan masalah menguasai kehidupan family kamu, tetapi kuasailah masalah dan carilah solusi bersama atas masalah tersebut. Memang ini bukan hal yang mudah tetapi harus diupayakan. Bukankah cara terbaik untuk keluar dari masalah yang kamu hadapi adalah dengan menuntaskannya.

Setiap family harus menyadari bahwa cara yang tepat dalam penyelesaian permasalahan kehidupan rumah tangga (setiap family mempunyai caranya sendiri) memungkinkan terciptanya suatu proses pertumbuhan. Setiap suami istri kristen seharusnya belajar dari berbagai konflik dan tidak mengulang-ngulang hal yang sama tanpa adanya perubahan sikap yang lebih dewasa. Rumah memerlukan ketenangan yang hangat dan kehangatan yang tenang. Oleh sebab itu, berbicara mengenai cara mengatasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada, setiap suami istri Kristen harus memahami dan menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut

 

Setiap pribadi seharusnya menjadi individu-individu yang mempunyai keinginan untuk tumbuh di dalam Kristus. Munculnya keinginan ini tidak dapat dibuat-buat dan juga bukan merupakan akibat dari janji yang diucapkan. Dorongan ini merupakan buah dari hubungan pribadi yang sehat dengan Kristus. Kondisi yang positif ini biasanya ditkamui dengan kerinduan untuk berdoa dalam pergumulan yang jujur dihadapan Allah dan membaca Alkamub dengan merefleksikannya pada kehidupan pribadi dan family. Dampaknya, prinsip-prinsip kebenaran Alkamub dan nilai-nilai kristiani akan nampak dan dijunjung tinggi.

Setiap suami istri adalah pribadi-pribadi yang mempunyai keinginan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Ia selalu ingin belajar, ingin memberi dan bukan hanya menuntut, serta bersedia untuk berkurban dan melayani. Penyelesaian masalah rumah tangga akan menjadi penyelesaian yang semu apabila setiap pribadi tersebut tidak mempunyai keinginan untuk mengasihi dan membahagiakan suami istrinya. Tanpa keinginan dan motivasi yang tulus, maka penyelesaian masalah rumah tangga semata-mata hanyalah untuk membebaskan diri dari gangguan. Pribadi yang yang tidak mempunayi keinginan untuk menjadi lebih dewasa cenderung egosentrik dalam penyelesaian masalah rumah tanga.

Setiap pribadi harus menyadari bahwa penyelesaian masalah family harus dimulai dari diri masing-masing. Setiap pribadi harus mempunyai keinginan yang kuat untuk mempertahankan keutuhan perkawinannya dan berusaha mencari alternatif solusi masalah yang baik untuk semuanya. Dalam Matius 7: 12 diberikan sebuah perintah yang penting untuk kamu terapkan yaitu lakukanlah terlebih dahulu kepada orang lain (dalam hal ini laki laki, wanita, putera puteri, atau orangtua kamu) apa yang kamu inginkan orang lain perbuat kepada kamu. Ayat ini bicara soal prakarsa. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri.

Siapa kamu tidak hanya dilihat dari apa yang kamu katakan melainkan juga dari cara kamu mengatakan dan berbuat sesuatu kepada suami istri hidup kamu (juga kepada putera puteri-putera puteri dan anggota family lainnya). Efesus 4: 32 menegaskan kepada kamu bahwa pentingnya keramahan (bukan kemarahan), kasih mesra, serta saling mengasihi dan mengampuni sebagai dasar membicarakan masalah yang ada dalam family. Sedangkan dari Efesus 5:22-31 kamu mendapatkan beberapa hal penting sebagai bahan perenungan diri: Apakah saya mencintai suami istri hidup saya seperti Kristus mencintai umatNya? Apakah saya sungguh-sungguh mencintai suami istri hidup saya seperti saya mengasihi diri saya sendiri? Jika jawabannya adalah TIDAK, mulailah untuk melakukan perubahan diri maka perkawinan Kamu akan menemukan kembali kehangatannya.

Berpikirlah yang positif terhadap suami istri hidup Kamu. Pkamungan yang positif akan melahirkan pendekatan dan cara-cara yang positif dalam mengatasi permasalahan yang ada dalam family. Fokuslah pada kelebihan atau keistimewaan – bukan kelemahan atau kekurangan – suami istri hidup kalian.

Berpikirlah dan rencputera puterianlah kesuksesan dalam kehidupan family Kamu. Ada satu kata yang tidak boleh terlintas dalam pikiran Kamu ketika menemukan masalah, yaitu kata CERAI. Jika kata ini sudah terlintas dalam pikiran Kamu atau suami istri hidup Kamu maka rumah tangga telah berada dalam bahaya besar. Cepat ubah orientasi hidup perkawinan Kamu.

Ingatlah selalu akan kasih semula yang membuat kalian saling jatuh cinta dan kemudian memutuskan untuk bersatu dalam ikatan perkawinan. Jika Kamu mengasihi suami istri hidup yang Tuhan berikan maka tidak akan ada dalam diri keinginan untuk mengecewakan atau menyakiti, yang ada adalah berbagi kehidupan dengan segala suka dan dukanya.

Selain itu, hal penting yang tidak boleh dilupakan ialah menempatkan Tuhan dan firmanNya sebagai pemandu kehidupan pribadi dan family. Bukankah family yang berbahagia ialah apabila menjadikan Tuhan sebagai “tamu” yang tetap dalam family tersebut.